Makam
Pada tahun 1920 seorang habaib yang juga pedagang dari Mesir bernama Syekh Salim berkunjung dan memutuskan menetap di Joholanang. Tak tercatat motivasinya menyatu dalam kemasyarakatan sekitar sendang. Syekh Salim menikah dengan Siti Aisyah yang berasal dari Dusun Tajem, Wedomartani, dan sehari-hari mengajarkan agama. Salah satu muridnya bernama Abubakar.
Pasangan Syekh Salim dan Siti Aisyah dikaruniai seorang putri yang dinamai Saidah. Sayangnya Syekh Salim tak sempat mendampingi pertumbuhannya karena sakit dan akhirnya meninggal. Sebelum wafat Syekh Salim berpesan agar dimakamkan di dekat Abubakar, muridnya. Hingga kini keturunan Abubakar yang mengurus kubur mereka yang letaknya di belahan barat sendang. Keturunan Syekh Salim sendiri masih bisa ditelusuri. Dayun, anak Saidah satu-satunya, saat ini menetap di Tajem, daerah asal neneknya.

Makam Syekh Salim dan Abu Bakar
Selain makam Syekh Salim dan Abu Bakar terdapat juga makam Bala Yudo Diponegoro. Di Joholanang terdapat barisan makam laskar Diponegoro. Perkuburan kuno yang dulu disebut Makam Ketos dan kini diyakini sebagai makam widya bala Diponegoro itu dirawat warga dengan amat baik sehingga nisan-nisannya tidak rusak dimakan jaman.
Secara turun-temurun warga mengetahui terjadinya pertempuran hebat pasukan Diponegoro dengan militer Belanda di sekitaran Sungai Gendol, sekitar tujuhratus meter dari sendang. Tempat terjadinya pertempuran kini dikenal sebagai Pasar Jambon. Pasukan Diponegoro yang gugur dikuburkan di Joholanang.

Makam Bala Yudo Diponegoro

Makam Lurah Prawiro Yudo dan Keluarga

Makam Nyi Beruk di Padukuhan Tambakan yang berkaitan erat dengan Sejarah Padukuhan Tambakan