Badui

Seni pertunjukan Badui merupakan seni tari religi yang  saat ini berkembang di seluruh Kabupaten Sleman, menjadi tari rakyat yang diiringi seni sholawat yang berisi pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Badui menggambarkan adegan latihan perang atau prajurit yang sedang berperang. Pertunjukan Badui juga menampilkan berbagai adegan atraksi yang umunya dilakukan anak-anak atau pemuda laki-laki. Tidak ada waktu khusus kapan pertunjukan Badui. Umumnya, pertunjukan Badui terselenggara saat ada peringatan hari jadi atau diundang untuk memeriahkan hajatan. Seni pertunjukan Badui di Kalurahan Sindumartani terdapat di Padukuhan Morangan bernama SEBAMOR

Kesenian badui SEBAMOR dibentuk pada tanggal 17 Juni tahun 1995. Yang diketuai oleh Bp Sudiyono. Terdiri dari 20 pemain tari badui dan 10 orang penabuh alat. Kesenian badui merupakan kesenian dengan bernuansakan islami, sholawat islam yang mempunyai ciri khas tari dan alat yang digunakan.  Alat  tersebut berupa Terban minim 6 buah, jedor 2 buah. Kesenian badui (Sebamor) sudah tampil beberapa tempat, berada masa kejayaan pada tahun 1995-2000an. Kesenian badui juga memiliki atraksi dengan nama Siswo Mudo Al Hikmah. Atraksi tersebut juga memiliki tari dan alat musik yang khas, yaitu menggunakan alat Bende/ bonang.

Atraksi yang ditampilkan diantaranya : Lato-lato api, berguling badan di atas duri salak, mengelupas kelapa memakai gigi,dll

Kesenian badui sempat berhenti/vaccum beberapa tahun, dikarenakan generasi penerus belum ada. Kemudian ditahun 2024 dihidupkan kembali dengan anak-anak muda padukuhan Morangan, yang terdiri dari regu putra 15 orang dan regu putri 15 orang, pemain alat 10 orang. kesenian badui sekarang diketuai oleh Hery Fitriyanto. Alat kesenian juga sudah mengikuti modernsasi yaitu memakai orjen, tetapi juga masih menggunakan ciri khas alat musik terban dan jedor.

Kesenian badui Sebamor masih berjalan sampai sekarang dan sering tampil dibeberapa event.

Alat-alat yang digunakan saat Pentas Badui