Upacara adat kematian yang masih dilestarikan oleh warga masyarakat di Kalurahan Sindumartani antara lain :

a. Pangrukti loyo (perawatan jenazah).

Pangrukti loyo adalah perawatan jenazah yang baru saja meninggal dunia. Urutannya jenazah dimandikan yang bersih,  kemudian dikafani (ditutup dan diikat menggunakan kain putih), ditaburi kayu cendana untuk menutupi lubang yang jumlahnya 9 (Sembilan) atau babahan howo songo. Dilanjutkan dengan dishalatkan dan dimakamkan.

Upacara Pemberangkatan Jenazah di Padukuhan Kentingan

b. Nyebar Dhuwit

Nyebar dhuwit atau menyebar uang  adalah menyebar uang recehan (kecil) dicampur dengan beras kuning bersamaan dengan perjalanan mengiringi jenazah sampai ke pemakaman.

c. Surtanah

Surtanah adalah  kenduri setelah selesai pemakaman jenazah. Adapun wujudnya berupa nasi golong, nasi tumpeng ungkur, dan kelengkapan lainnya.

d. Susupan

Susupan adalah seluruh keluarga atau kerabat almarhum/almarhumah berjalan bersama-sama secara bergiliran di bawah keranda jenazah sesaat sebelum pemberangkatan  jenazah ke pemakamanan. Setelah menyusup sebanyak 3 (tiga) kali, jenazah bisa diberangkatkan ke pemakaman.

e. Nelung Dina

Upacara adat dan tradisi Nelung Dina atau 3 hari adalah tradisi membacakan doa-doa dan ayat Al-Quran untuk orang yang meninggal dunia, biasanya dilakukan pada hari ke tiga setelah kematian. Kegiatan ini bertujuan untuk memohonkan ampunan dosa, rahmat Allah, dan tempat yang layak di sisi-Nya bagi arwah orang yang telah meninggal. Adapun wujudnya berupa nasi nasi gurih, ayam, dan kelengkapan lainnya, termasuk kembang setaman.

f. Mitung Dina

Upacara adat dan tradisi Mitung Dina atau 7 hari adalah tradisi membacakan doa-doa dan ayat Al-Quran untuk orang yang meninggal dunia, biasanya dilakukan pada hari ke tujuh setelah kematian. Kegiatan ini bertujuan untuk memohonkan ampunan dosa, rahmat Allah, dan tempat yang layak di sisi-Nya bagi arwah orang yang telah meninggal

g. Matang Puluh Dina

Tradisi peringatan kematian almarhum/almarhumah di malam hari ke 40 dari kematian.

h. Nyatus Dina

Tradisi peringatan kematian almarhum/almarhumah di malam hari ke 100 dari kematian.

i. Setahunan

Tradisi peringatan kematian almarhum/almarhumah di malam hari tepat 1 tahun dari kematian.

j. Rong tahunan

Tradisi peringatan kematian almarhum/almarhumah di malam hari tepat 2 tahun dari kematian.

k. Nyewu

Nyewu adalah puncak dari kenduri peringatan kematian dari almarhum/almarhumah. Biasanya diadakan secara besar-besaran karena sudah terakhir dari tahapan kenduri dalam rangka mendoakan arwah almarhum atau almarhumah. Kegiatannya seperti hajatan, yakni banyak orang atau kerabat yang berkunjung (nyumbang). Tidak sedikit yang sebelumnya diadakan pembacaan Al Qur’an 30 juz oleh masyarakat dan pengajian besar