Ada beberapa bagian atau tahapan yang harus dilalui dalam upacara adat kelahiran, namun sekarang ini masyarakat banyak mengambil yang merupakan intinya saja. Meskipun demikian masih ada sebagian masyarakat yang masih melestarikan adat menyambut kelahiran bayi, diantaranya :

a. Mapati atau Nglimani

Mapati atau Nglimani adalah peringatan bahwa bayi dalam kandungan ibu sudah berusia empat atau lima bulan. Acaranya berupa syukuran atau kenduri berupa nasi gurih dan kelengkapannya atau nasi gudhangan (ujungan) dan kelengkapannya. Setelah diberi doa kemudian dibagikan kepada sanak saudara dan masyarakat sekitar

b. Mitoni

Mitoni adalah peringatan bahwa bayi dalam kandungan ibu sudah berusia tujuh bulan.   Acaranya berupa syukuran atau kenduri  berupa nasi gurih dan kelengkapannya, juga ada pontang yang dibuat dari daun kelapa yang masih muda atau janur kuning. Selanjutnya pontang tersebut diisi nasi gurih dan lain-lainnya. Dilanjutkan dengan siraman, ganti jarik, brojolan, memecahkan kelapa gading, memotong janur, memecahkan rujak dan diakhiri dengan selametan.

Kenduri Mitoni (Foto : LA)

c. Mendem Ari-ari

Mendem ari-ari adalah kegiatan yang dimulai setelah sang bayi lahir, maka ari-arinya dipisah dari perut bayi kemudian dibersihkan lalu dimasukan ke dalam tempat atau wadah tertentu (gendhogo) dan ditaburi daun dadap serep, dlingo bengkle, adas pulowaras dan dikubur disamping kanan atau kiri pintu utama tergantung jenis kelamin si bayi. Sesuai adat maka yang mengubur adalah bapak si bayi yang digendong dengan jarik jawa, setelah itu dipasangi lampu.

d. Brokohan

Brokohan adalah tasyakuran atau kenduri sesaat setelah kelahiran sang jabang bayi. Adapun wujudnya adalah nasi  wajar atau nasi gurih.

  • Jika nasi wajar, berupa pecel dan telur dadar diiris kecil-kecil
  • Jika nasi gurih, berupa ayam kampung, gorengan, kedelai hitam dan kobis diiris kecil-kecil, lan sanes-sanesipun.

e. Sepasaran

Sepasaran adalah kenduri setelah sang jabang bayi lahir genap berumur lima hari (sepasar). Adapun wujudnya adalah nasi sayuran (ujungan) atau nasi wajar ditambah telur rebus. Kemudian ada bubur merah-putih  atau jenang abang-putih sebagai syarat untuk pemberian nama atau tetenger sang jabang bayi

f. Puputan

Puputan adalah pisahnya atau puput pusar atau wudel sang bayi. Biasanya juga diadakan syukuran atau kenduri (kembul bujono) berupa nasi gurih, ayam, peyek, tempe dan kedelai hitam

g. Aqiqah

Aqiqah bisa dilaksanakan setelah bayi lahir genap 7 (tujuh), 14 (empat belas) hari, dan seterusnya. Aqiqah berupa syukuran dengan menyembelih kambing. Jika bayi laki-laki menyembelih 2 (dua) ekor kambing dan jika bayi perempuan adalah 1 (satu) ekor kambing. Kenduri berupa nasi wajar dan dilanjutkan dengan potong rambut. Adapun daging kambing yang sudah masak dibagikan kepada warga masyarakat sekitar.

Prosesi Potong Rambut pada Acara Aqiqohan

h. Selapanan

Selapanan adalah syukuran atau kenduri jika sang bayi sudah berusia selapan atau 35 (tiga puluh lima) hari, berupa nasi sayur (ujungan/gudhangan) komplit.

‘

i. Wetonan

Wetonan adalah kenduri syukuran peringatan (wetonan) sang bayi setiap selapan atau 35 (tiga puluh lima ) hari. Misal, bayi lahir pada hari Kamis pon, maka setiap kamis pon diadakan kenduri syukuran (among-among) berupa nasi sayur (ujungan/gudhangan) komplit

j. Tedhak Siten

Tedhak Siten adalah upacara adat Jawa yang dilakukan ketika seorang anak pertama kali menapakkan kakinya di tanah. Upacara ini biasanya dilakukan Ketika anak berusia sekitar delapan bulan. Tujuan dari Tedhak Siten adalah untuk memberikan penghormatan kepada bumi dan sebagai simbol bahwa anak mulai belajar berjalan dan siap meniti kehidupan selanjutnya. Secara harfiah, kata “Tedhak” berarti turun atau menginjak, sedangkan “Siten” berarti tanah, sehingga Tedhak Siten memiliki makna yang dalam dalam kontek budaya Jawa.

Upacara Tedhak Siten Berjalan di atas Jadah Tujuh Warna

Upacara Tedhak Siten Masuk Kurangan

k. Tetesan

Tetesan adalah sebuah upacara adat Jawa untuk menandai peralihan anak perempuan dari masa kanak-kanak ke masa remaja. Namun seiring berkembangnya zaman, upacara tetesan dapat dilakukan pada saat bayi. Upacara melibatkan siraman air kembang, minum jamu (loloh), mengenakan busana adat (seperti sabuk wolo), dan doa restu. Bahan seperti kunyit digunakan sebagai simbol pembersihan/penyucian. serta menjadi bagian budaya yang masih dilestarikan di Kalurahan Sindumartani.

Tradisi ini sarat makna, mengajarkan anak perempuan tentang peran, kebersihan, dan budaya, meski pelaksanaannya bervariasi tergantung keluarga dan keyakinan.

Upacara Tetesan pada bayi Perempuan di Padukuhan Ngasem

l. Sunatan

Sunatan atau Khitan adalah prosedur pembedahan minor untuk mengangkat kulup (preputium) dari penis. Di Sindumartani, praktik ini merupakan tradisi yang sangat mengakar, terutama karena mayoritas penduduknya beragama Islam, di mana khitan adalah syariat (perintah agama) yang penting.

Prosedur khitan modern umumnya dilakukan oleh tenaga medis profesional (dokter atau perawat) menggunakan teknik dan peralatan steril untuk memastikan keamanan dan kenyamanan anak. Setelah prosedur, anak akan menjalani masa pemulihan singkat dengan panduan perawatan luka yang tepat.

Secara keseluruhan, sunatan adalah ritual inisiasi yang kaya makna, menyatukan nilai-nilai keagamaan, budaya, dan praktik kesehatan demi kesejahteraan dan identitas seseorang di masyarakat

Sunatan Massal Sumber Foto : warta.jogjakota.go.id