Upacara Bangun Rumah

Masyarakat Sindumartani masih melestarikan upacara adat mendirikan rumah yang umumnya melibatkan beberapa tahapan penting yang sarat akan doa, harapan, dan wujud syukur.

Tradisi membangun rumah di Jawa terbagi dalam tiga tahapan utama yang sarat makna:

a. Penentuan Hari Baik (Neptu)

Menghitung Neptu (nilai hari dan pasaran) untuk mencari tanggal yang paling baik untuk memulai pembangunan, disesuaikan dengan hari lahir pemilik rumah.

b. Peletakan Pondasi (Buka Tableg)

Dilaksanakan saat penggalian atau peletakan batu pertama pondasi dengan mengadakan Selamatan untuk memohon izin, keselamatan, dan menolak balak. Uborampe yang disiapkan antara lain Nasi Tumpeng, Jenang Sengkala (bubur merah-putih), dan Takir (wadah berisi koin, bunga) diletakkan di pondasi. Ada juga yang menggunakan Cok Bakal.

Sesajen Cok Bakal

Cok bakal itu terdiri dari :

  • Tempatnya disebut Takir berasal dari Noto Pikir artinya kita sebagai manusia harus menata pikiran kita dalam menghadapi kehidupan biar tidak kemrungsung, iri, drengki, metakil dls. Dengan demikian kita bisa lebih tenang sebagai wadah untuk menghadap Tuhan. Takir tadi dari godong (daun pisang) mengandung maksud Kudu Dong yaitu harus jelas atau terang jalan kita, sedangkan supaya takir tidak buyar harus dikunci dengan Semat artinya Kudu Mat (harus terpusat). Harus terpusat tujuan kita hanyalah untuk Gusti Kang Akaryo Jagad. Semat dalam bahasa lain juga Biting Sodo ngemu karep kang wis dibitingi /ditoto kanti becik (apa yang sudah diatur dengan baik) kudu iso gawe Usodo (Tombo/Obat) bagi jiwa-jiwa yang keruh/gelap pikir.
  • Berisi ndog/telur yang menyimbolkan awal mula kehidupan (sebelum jadi ayam). Dan telur itu ketika menetas akan jadi ayam berbulu hitam, putih, merah, atau blorok, kita tidak ada yang tahu. Mengandung arti segala upaya kita adalah manut karsane Pangeran.
  • Berisi Kolo Gumantung (kelapa, kemiri, tumbar, merico dll.) Kolo artinya waktu/saat, gumantung artinya nggantung/ngawang/samar jadi ngemu karep saat yang mana kita belum tahu keadaannya samar (diartikan jodoh, rizqi, hidup dan mati) dan diharapkan pada Tuhan untuk mendapat kerahayuan.
  • Kolo Kependem (kunir, kencur, bawang abang, bawang putih dll.) Kependem artinya terpendam/gelap. Ngemu karep saat dimana semua gelap/kependem hanya Tuhan harapan kita juga. Agar diterangi, diberi jalan keluar.
  • Dom bolah (jarum dan benang) mengandung arti kita harus bisa merekatkan, menyatukan jiwa dan raga dalam pengabdian pada Tuhan dan pada Sesama (Welas Asih Sapodo padane Tumitah)
  • Daging, trasi dan lain-lain, adalah bumbu ngemu karep bahwa dalam hidup itu rasanya nano-nano… istilah kulo ?… yaitu harus bisa menempatkan diri dan bersikap baik serta siap menghadapinya

 

c. Pemasangan Atap (Munggah Molo/Suwunan)

Dilaksanakan ketika kerangka atap (kuda-kuda/blandar) dipasang. Ini adalah ritual terpenting. Sebagai wujud syukur dan doa agar rumah kokoh. Tukang dan tetangga diundang untuk makan bersama. Adapun uborampe yang disiapkan : Tebu, Pari Sak Wit (seikat padi), dan Kelapa diikat dan digantungkan di kerangka atap, melambangkan harapan kemakmuran dan keteguhan

Do’a sebelum munggah molo. Sumber Foto : Yt Bung Baedi

Uborampe Munggah Molo

d. Menempati Rumah Baru (Slup Slupan)

Selamatan sebagai puncak rasa syukur setelah rumah selesai dan siap dihuni, memohon agar rumah baru menjadi tempat tinggal yang sejahtera.

Slup-Slupan Rumah Baru, Sumber Foto : Jawa Pos